Pada awal abad 20 kata Simalungun digunakan Belanda untuk wilayah Simeloengoen-landen(tanah Simalungun). Konon, nama Simalungun berasal dari kata sima-sima atau puing-puing dan malungun yang berarti rindu atau sepi. Demikian yang ditulis oleh bpk. M.D. Purba dalam bukunya berjudul Lintasan Sejarah Kebudayaan Simalungun. Bpk. M. D. Purba memberikan argumentasi bagaimana marga-marga Simalungun yang empat itu (Sinaga, Saragih, Damanik, Purba) berkembang dan menyebar sampai ke luar daerah Simalungun Namun, sampai sekarang, asal-usul orang Simalungun masih diliputi oleh banyak misteri.

BATAS GEOGRAFIS
Simalungun berbatas dengan Sibolangit di sebelah utara danau Toba dan Tuktuk Sipiak (Parapat) di sebelah tenggara berlanjut terus hingga ke gunung Dolog Pangulubau dan sungai Bah Silou sebagai batas alam Simalungun dengan Asahan. Sedangkan di sebelah timur berbatas dengan Padang Badagei serta Serdang.
KERAJAAN
Asal-usul raja Simalungun juga dibungkus oleh legenda dan mitos. Secara umum, diketahui bahwa orang Simalungun termasuk rumpun proto Melayu yang berasal dari Hindia Belakang. Menurut T. B. A. Purba, sebelum tahun 1833 daerah Simalungun terbagi atas empat kerajaan kecil yang disebut harajaon na Opat yaitu Siantar, Tanah Jawa, Panei dan Silou. ( slide show) Karena terjadi perang saudara, maka Harajaon na Opat menjadi pecah dan akhirnya terbentuklah tujuh kerajaan di Simalungun. Tiga kerajaan yang muncul itu adalah Raya, Purba, dan Silimakuta.
MATA PENCAHARIAN
Sistem mata pencaharian tradisional orang Simalungun sehari-hari adalah marjuma atau berladang dengan cara menebas hutan belukar (mangimas) dan mengolahnya untuk tanaman palawija seperti padi, jagung, ubi.
PENGARUH AGAMA-AGAMA
Agama-agama, seperi Hindu dan Budha, juga mempengaruhi aspek kehidupan di Simalungun. Hal ini terbukti dengan peninggalan beberapa arca yang terdapat di museum Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan sang Budha yang menunggangi gajah (Budha).
Sedangkan agama Islam pertama kali masuk ke Simalungun melalui Bandar, kemudian menyebar ke Siantar, Tanah Jawa, Silou Kahean. Hubungan ekonomi dan politik dengan saudagar melayu Islam menandai pengislaman orang-orang Simalungun. Pada tahun 1850 sudah ada orang Simalungun yang memeluk agama Islam, khususnya di Bandar dan Siantar. Pada tahun 1901, raja Siantar sendiri, yakni raja Sang Naualuh Damanik akhirnya memeluk agama Islam.
Demikian juga agama Kristen yang sudah masuk ke Simalungun pada tanggal 2 September 1903 yang dibawa oleh misionaris Jerman, pdt. August Theis. Ia memulai pelayanannya di Pematang Raya dan putra Simalungun pertama yang menjadi pendeta adalah Pdt. Jaulung Wismar Saragih Sumbayak.
UNGKAPAN ‘BOAH’
Di Simalungun ada satu budaya khas yang biasa dilakukan ketika hendak melewati sebuah tempat yang biasanya dipakai untuk tempat permandian, khususnya oleh para perempuan.. tempat itu mau tidak mau harus dilewati karena mungkin saja menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai daerah tujuannya..sebelum melewati jalur tersebut, biasanya mereka meneriakkan kata ‘boah’ sebagai pertanda hendak melewati tempat permandian tersebut…para perempuan dapat membalas dengan meneriakkan kata ‘lopus atau laos’ yang berarti mereka dipersilahkan lewat….atau bisa juga meneriakkan ‘lagi’ yang berarti masih ada perempuan yang sedang mandi dan mereka harus sabar menunggu lebih lama..
TOLU SAHUNDULAN LIMA SAODORAN
Falsafah budaya Simalungun tercermin pada falsafah adat Simalungun yaitu Tolu Sahundulan, Lima Saodoran. Tolu Sahundulan terdiri dari, Tondong, Sanina, Boru. Sedangkan Lima Saodoran terdiri dari: Tondong, Tondong-ni-tondong, Sanina, Boru, dan Boru-ni-boru (anak boru mintori). Semboyan Tolu Sahunduan: Sanina pangalopan Riah, Tondong pangalopan podah, Boru pangalopan gogoh. Marsanina ningon pakkei, manat. Martondong ningon hormat, sombah. Marboru ningon elek, pandei.
Artinya.....
Ada kekhususan pada Tolu Sahundulan dan Lima Saodoran, bahwa hal ini berlaku pada pesta perkawinan atau dengan kata lain pesta perkawinan (partongahjabuan) lah yang menjadi urat dari Tolu Sahundulan Lima Saodoran. Ketika merencanakan acara pesta perkawinan, secara otomatis disusun/dibentuklah Tolu Sahundulan Lima Saodoran ini.
MANURDUK DENGAN DAYOK NA BINATUR
Horja adat dalam Simalungun memiliki adat manurduk dengan dayok na binatur . Anggo sapari dayok do adat na utama, artinya ayam lah yang menjadi adat yang utama. Meskipun binatang empat kaki juga disayat, namun masih tetap diberikan ayam, karena yang lain itu dikatakan sebagai penambah atau pelengkap saja.
MOTTO
Berdasar hasil seminar budaya Simalungun ditetapkan bahwa budaya Siimalungun didasari pada Habonaron do Bona yang artinya Kebenaran adalah pangkal, yang sudah dicantumkan sebagai motto pada lambang kabupaten Simalungun. Begitu juga dengan ‘Sapangambei manoktok hitei’ yang artinya bersama-sama membangun jembatan atau bergotong royong dan bahu membahu untuk membangun. Sudah dicantumkan juga pada lambang kota Pematang Siantar.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Monday, December 21, 2009

0 komentar

Subscribe here

Tentang Kami

My photo
Denpasar, Bali, Indonesia
WELLCOME to Gereja Kristen Protestan Simalungun Bali... Di sini tempat kita memuji Tuhan Yesus Kristus, tempat kita belajar Firman Tuhan... Let's praise Jesus Christ..!!Haleluya...

Pengurus Gereja

Pendeta
Pdt. Melena br. Turnip

Pimpinan Majelis

Vorhanger : St. Jansen Purba Sidagambir
Wapeng : St. Rajalim Saragih Simarmata
Sekretaris : Sy. Johny Damanik
Bendahara : St. W. Saragih Simarmata

Anggota Majelis
St. Rajalim Saragih
St. H. F. Sinaga
Sy. HJ. Sipayung
Sy. Enrico Purba
Sy. Doni F. Sinaga
Sy. Jayansen Sipayung
Sy. E. H. Sinaga
Sy. Jadima Purba Sidagambir
Sy. Benny Saragih
Sy. Jonrianto Purba

Seksi-seksi/Koordinator
Bapa: Sy. Jayansen Sipayung
Wanita: Ny. M. Lisbeth Br. Saragih
Pemuda: Sy. Donny Sinaga
SM: Ny. Evi K. Br. Girsang

Pembimbing
Bapa: St. H. F. Sinaga
Wanita: St. W. Saragih Simarmata
Pemuda: Sy. Jadima Purba Sidagambir
SM: Sy. Jonrianto Purba

Translate

GKPS Denpasar's Moments

Pensi Pgkps Denpasar

Ianan, Lokasi


View Tanjung Benoa in a larger map