Toping-toping dan tangis tangis adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan. Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 3 (tiga)m bagian, bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa, bagian yang kedua adalah manusia memakai topeng yang disebut topeng dalahi dan topeng ini dipakai oleh kaum laki-laki dan wajah topeng juga menyerupai wajah laki-laki dan kemudia topeng daboru dan yang memakai topeng ini adalh perempuan karena topeng ini menyerupai wajah perempuan (daboru).

Pada tanggal 06 s/d 08 Agustus 2009 tepatnya di Kota Perdagangan Pematang Siantar diadakan acara yang disebut dengan Pasta Rondang Bintang, acara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Dalam acara ini digelar berbagai kegiatan seni dan budaya diantaranya berbagai jenias tari daerah Simalungun, Festival Lagu daerah, permainan tradisional (Jelengkat atau enggrang) dan Festival Toping-toping dan tangis-tangis.
Festival toping-toping dan tangis-tangis ini diadakan pada acara Pesta Rondang Bintang dengan tujuan untuk mengangkat dan mengembangkan kembali peranan toping-toping atau tangis-tangis yang biasanya dilaksanakan pada saat acara duka cita di daerah Simalungun. Pada Zaman dahulu penampilan huda-huda atau toping-toping dan tangis-tangis hanya dilaksanakan dikalangan keluarga kerajaan saja dan karena sekarang keberadaannya sudah tidak ada lagi, maka akan diaktifkan kembali dalam kehidupan sehari hari. Dari sekian lama Pesta Rondang Bintang dilaksanakan baru kali ini diadakan festival toping-toping dan tangis-tangis karena dari pengamatan dan pantauan dilapangan sudah sangat jarang dan biasanya acara ini juga dilaksanakan jika orang yang punya hajatan adalah orang yang sudah saur matua atau orang yang sudah lengkap anak, cucu dari masa tuanya.
Dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia, tentanya kebudayaan ini sangatlah penting arti dan manfaatnya dimasa mendatang, oleh sebab itu diharapkan hendaklah kita dapat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang kita yang diwariskan kepada kita dan anak cucu kita. Kalau ditinjau dari segi jenis tarian dan kebudayaan, tari toping-toping dan tangis-tangis ini tidak dapat kita jumpai dimanapun terkecuali di daerah Simalungun dan ini akan menjadi aset atau kekayaan budaya daerah Simalungun khususnya dan Sumatera Utara juga Indonesia pada umumnya, oleh sebab itu marilah kita menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki.

sumber: http://bilisitungkir.wordpress.com

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Wednesday, November 11, 2009 0 komentar

Kontribusi kita terhadap pembangunan jemaat dan pembangunan masyarakat melalui peran pemerintah? Berapa banyak orang Simalungun sebagai aktor pembangunan dalam wilayah kita dan sejauh mana jangkauan konsep pembangunan terhadap kemandirian dan jati diri masyarakat otonomi di daerah. Ada sebuah doktrin yg diwariskan Pdt J Wismar Saragih, yaitu “siparutang do au bani Simalungun”. Doktrin ini dapat disamakan dengan doktrin Jhon Kennedi yg mangatakan; “jangan tanya apa yg diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan pada dirimu apa yg telah kau berikan, pada negaramu”.

Alam konteks ke Simalungun-an adalah apa yg dibuat untuk sesama, apakah saling menjatuhkan, saling mencari keuntungan pribadi dalam persakutuan, atau kita memadu potensi untuk maju mencapai kesetaraan.

Pandangan para pendahulu kita yg mampu memprediksi melewati proses multi dimensi jaman, dan mampu mengimajinasi dan antisipasi kemungkinan yg diperlukan oleh generasi kemudian, maka sangat kontekstual kalau tema kerja tahun 2006 berfokus pada pembinaan dan kaderisasi pemuda yg mampu hidup dalam pemaknaan ketaatan kepada pemerintah yg berarti dia sendiri ada di dalamnya sehingga tidak hanya taat tapi juga ditaati.
Saya sangat terkesan dengan dialog kami dengan seorang teman marga Hutagalung yg bekerja di Kanwil Keuangan Sumatera Utara dengan membanitahukan kepada saya bahwa telah banyak mereka dari kelompok elit mengupayakan tempat pada beberapa jabatan di departemen tertentu dari para pemuda yg dikaderkan berasal dari pemuda gereja dan belajar pada perguruan dilingkungan gereja itu juga.Penempatan itu bukan karena lobiling tapi kemenangan kompetisi karena bimbingan dan semangat.

Ada dua kutub yg mendukung konsep tersebut,yaitu ada kesepakatan para elit melihat siapa di masa depan,dan sisi lain adalah potensi ketaatan yg ada pada pemuda itu sendiri.Mereka di samping berdoa juga diiringi kerja keras. Dan katanya bahwa banyak di antara mereka itu menjadi donatur pembangunan jemaatnya bahkan membuat kesinambungan bahwa mereka merasa berhutang terhadap sponsornya.

Merenungi konser strategi mereka itu, saya jadi teringat falsafah yg di tulis Kahlil Gibran sebagai berikut

Agar lebih dekat kepada Tuhan, lebih dekatlah kepada manusia.

Nilai manusia itu berada dalam beberapa hal yg diciptakannya dan bukan dalam berbagai harta yg ditimbunnya.

Kesalahan terburuk kita adalah kesibukan kita dengan kesalahan orang lain.

Kita suka mengembangkan kesalahan dan tidak begitu suka mengembangkan fakta kebenaran dan keunggulan. Adanya suatu ajaran yg dianut orang Simalungun yaitu “habonaron do bona” tapi kurang ada proses aplikasinya. Justru ajaran ini jadi mengkristal dalam bentuk masyarakat yg berbudaya sosial religius sehingga sifatnya kurang agresip yg manipestasinya pada rasa malu-malu dengan pertimbangan harga diri dan kemudian sifat tersebut diadopsi generasi muda.

Banyak wadah interaksi mendorong perubahan tradisi itu seperti berdiri nya Partuha Maujana Simalungun sejak 46 tahun lalu yg bergerak sampai pada kongresnya yg ke 6 bulan September 2005 yg lalu, tapi sayang belum dikenal lapisan masyarakat bawah. Ada HIMAPSI sebagai wadah generasi muda intelektual, ada HISARSI sebagai kompotensi penyusun perubahan secara analitis, ada KNPSI sebagai penggerak kelompok pemuda dan ada UPAS yg berfungsi kontrol terhadap pemberdayaan asset-asset Simalungun termasuk Pemerintah Daerah Otonom,ada Ikatan Keluarga Muslim Simalungun. Nampaknya semua institusi ini menjadi tumpang tindih dalam menerapkan fungsi dan missinya.Semua kelembagaan ini hanya dijadikan peluang menempati status tanpa aksi.

Belajar dari pengalaman terasa diperlukan upaya legitimasi kelembagaa adat oleh lembaga adat ditiap kampung dan desa sampai pada adanya lembaga adat tertinggi yaitu Majelis Permusyawaratan Adat sebagai pusat pemberdayaan adat dan budaya bagi seluruh masyarakat adat Simalungun dari beberapa daerah Kabupaten. Perlu ada lembaga proteksi adat yg mandiri untuk tidak mudah terkoptasi oleh kelompok sosial yg lain. Untuk itu perlu ada forum Kongres Besar Adat dan seminar sejarah adat Simalungun. Kemungkinan saja untuk masa depan kelembagaan adat ini menjadi sangat potensial dan strategi dalam mempertahankan hak dan asal-usul masyarakat adat Simalungun. Untuk itu sendat kompeten dan fungsional GKPS dalam menyelamatkan peran pemuda dan dorongan peran intelektual karena sayapnya telah menyebar keberbagai penjuru.

Tanpa mengurangi potensi dan rasa nasionalisme dikalangan generasi muda Simalungun, maka adalah sangat baik kalau d itiap daerah dan wilayah ada Ikatan Keluarga Simalungun untuk menghimpun seluruh warga Simalungun yg ada di sekitarnya mengingat agamanya yang berbeda-beda. Memang dari dulu diakui adanya paradigma kemasyarakatan yang baru dalam tubuh PMS yang pengurusnya terdiri dari berbagai golongan agama, tapi karena sifatnya berasal dari partuha dan maujana maka terkonotasi bahwa PMS adalah kelompok elit yg sedikit berwajah feodalistik dan tidak persuasip dan karena itu sulit merekrut kelompok pemudanya. Kegagalan merangkul Pemuda adalah awal kegagalan masa depan. Maka kata kuncinya adalah bagaimana menyertakan pemuda secara aktip dalam perkembangan masa depan Simalungun dan GKPS.

Kita berharap kerada para elit yg ada di tubuh GKPS dengan berpegang pada kekuatan iman, kasih dan pengharapan. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca.

Sumber: http://robinsandhypurba.wordpress.com/2009/02/19/asal-usul-gkps/

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Bayangkan Sinar Matahari yang selalu bersinar: cemerlang, hangat, dan ramah. Masalahnya, kita tidak selalu melihatnya. Sesungguhnya gambaran tersebut merupakan bakat kebahagiaan yang ada dalam diri kita dan telah ada dalam diri kita – ia selalu hadir dan tersedia dalam diri kita. Kita dilahirkan untuk berbahagia. Kebahagiaan adalah DNA kita. Secara naluri kita mengetahui apakah kebahagiaan itu. Kita tidak perlu menggambarkannya.

Kemudian datanglah kesulitan dalam hidup kita yang memunculkan konflik, kesusahan, penderitaan, dan keputusasaan. Sebagaimana yang kita alami, penderitaan tersebut kita peroleh karena terputus dari kebahagiaan kita. Kebahagiaan terebut terpisah dari diri kita kemudian menjadi kenangan yang terlupakan. Oleh karena itu, kadang-kadang ingatan tentang kebahagiaan tersebut perlu dimunculkan. Ben Renshaw.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Bila telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tercekat di tenggorokan
Itu bukan cinta tetapi suka.
Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya
Itu bukan cinta tetapi birahi, nafsu
Bila kamu menginginkannya karena Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi kesepian.

Bila kamu menerima pernyataan cintanya,
Karena kamu tidak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi ber-belaskasihan
Bila kamu bersedia memberikan semua yang kamu sukai demi dia,
Itu bukan cinta tetapi kemurahan hati.
Bila kamu bangga dan selalu ingain memamerkannya kepada semua orang
Itu bukan cinta tetapi kemujuran.
Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah satu-satunya dalam hidupmu
Itu bukan cinta tetapi gombal.

Kamu mencintainya,
ketika kamu menerima kesalahan dia,
karena itu adalah bagian dari kepribadiannya,
ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu, waktumu
ketika hatimu tercabik bila ia sedih, dan berbunga bila ia bahagia
Ketika kamu menangis untuk kepedihannya, biarpun ia cukup tegar menghadapinya,
Ketika kamu tertarik kepada orang lain tetapi kamu masih setia bersamanya
Cinta adalah pengorbanan, mencintai adalah kematian atas egosime diri
Kadang itu menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah CINTA….

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

FENG SHUI berarti angin dan air (YIN dan YANG), yaitu sebuah teori tentang seni tata letak. Dimana secara keseluruhan isinya mencakup pemikiran-pemikiran yang ada dalam kitab I-CHING, Sebuah kitab suci kepercayaan China kuno yang ditulis oleh seorang filsof bijak bernama Fu Shi sekitar 3322 SM.
Secara umum Feng Shui bertujuan untuk mengarahkan dan menyelaraskan beberapa unsur atau elemen yang berhubungan dengan manusia, Sehingga mengandung NILAI SENI (harmoni) yang indah dipandang dan sekaligus dapat memberi dampak (manfaat) positif.


Namun pada perkembangannya, pengaplikasian Feng Shui dalam kehidupan sehari-hari banyak dipengaruhi oleh TAO THE CHING (Laotze,1120 SM) yaitu sebuah kepercayaan lain yang mengajarkan peralihan (transendensi) dari segala yang bersifat duniawi melalui pen-jatidiri-an diri seseorang dengan alam. Menganggap alam adalah allah dan allah itu alam (phanteisme), serta bersifat monoisme dualistis atau kepercayaan akan alam sebagai energi tunggal (monoisme) yang seimbang dan harmoni walau dalam pertentangan antar dua kutub (dualistis) misalnya; hitam-putih, baik-jahat, air-api, logam-kayu dan seterusnya.
Seiring dengan perkembangan tersebutlah, Feng Shui yang kita kenal saat ini telah mengarah pada hal-hal yang bersifat takhyul, karena dianggap mempunyai CHI (=energi/kekuatan) khusus yang dipercaya dapat memenuhi harapan-harapan duniawi manusia. Atau sebagai solusi yang lebih konkrit dalam hal mengatasi masalah yang tengah dialami seseorang, Baik dalam hal ekonomi, bisnis, keluarga, jodoh, pekerjaan atau dalam merencanakan sesuatu hal misalnya: memulai usaha, membangun rumah, memilih jurusan bagi anak-anak yang sedang dalam study dll. Praktek ini banyak dilakukan oleh orang Kristen sendiri terutama di kota-kota besar di Indonesia dan bahkan di negara-negara besar seperti China, Hongkong, Thailand, dan Amerika.
Singkatnya sejauh ini Feng Shui telah berevolusi pada hal-hal yang sangat bertentangan dengan IMAN KRISTIANI dan tanpa disadari telah menjadi mammon semu karena telah menduakan Yesus (=Jalan, Hidup dan Kebenaran) sebagai Iman, Pengharapan dan Kasih.
Beberapa hal yang bertentangan tersebut adalah :
1. SIMBOL
Berupa gambar atau benda, biasanya ditempatkan ditempat-tempat tertentu dengan maksud tertentu, misalnya : mengusir roh jahat, meperlancar rejeki, menjaga kesehatan seisi rumah dan lai-lain. Dimana tempat/lokasi yang dimaksud harus terlebih dahulu ditentukan oleh seorang ahli Feng Shui (suhu).
2. ANGKA
Terdiri dari angka 1 sd 9, beberapa diantara angka tersebut dianggap tidak membawa keberuntungan (hokki) misalnya : 4 dan 7. Dan sebaliknya. Dalam pengaplikasiannya sering dihubungkan dengan tanggal-bulan-tahun lahir seseorang.
3. ARAH MATA ANGIN (selestial)
Digunakan sebagai pedoman dalam hal menentukan arah sebuah rumah, arah meja seorang pimpinan, posisi tidur/istirahat dan lain sebagainya. Dimana hal ini dapat ditentukan melalui “angka-angka” yang dimiliki seseorang.
4. SHIO (terrestrial)
Atau lebih dikenal ZODIAK. Namun SHIO yang dimaksud tidak bersarkan oleh rasi bintang tetapi digambarkan melalui 12 (dua belas) jenis binatang yang dianggap dapat mewakili pribadi seseorang yaitu berupa Sifat, tingkah laku, pola pikir dll.
5. ELEMEN/UNSUR
Yaitu terdiri dari “kayu, api, logam, tanah dan air” dipercaya berhunungan erat dengan anatomi (organ) tubuh manusia, misalnya : Api – berhubungan dengan Jantung dan Otak manusia.
6. RITUAL
Dilakukan pada/untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Ritual ini lebih mengarah pada metode intuitif atau metode diluar realitas, irasional dan mengarah pada hal yang supranatural.

N a m u n demikian bila kita kembali pada tujuan mula-mula Feng Shui dituliskan yaitu sebagai ilmu pengetahuan seni dan tata letak maka Feng Shui bukanlah suatu ajaran yang perlu diwaspadai karena/atau bertentangan dengan Firman Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dari pengertian sebenarnya SENI TATA LETAK yang dimaksud adalah penempatan objek (benda) pada posisi/tempat yang sebenarnya (tepat) oleh manusia sebagai pelaku (subjek) atau kadang juga sebagai objek, sehingga selaras (indah) dipandang dan memiliki nilai (manfaat) bagi manusia itu sendiri- artinya manusia ditempatkan sebagai mahluk mulia yang menguasai, mengelola dan melestarikan alam. Adapun manfaat yang dimaksud antara lain: Kesehatan, rejeki, Cinta Kasih, Kedamaian, Kemakmuran, Kesejahteraan, Kesuksesan dan Harapan. Jadi Feng Shui sebenarnya NETRAL terhadap agama, adat-budaya maupun pada dunia ilmu pengetahuan.

Netralisasi Feng Shui terhadap agama juga dapat dibuktikan dari salah satu teorinya yang menyebutkan bahwa kehidupan seseorang dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor. Dimana bila dilihat dari persfektif Iman Kristiani ke-lima faktor tersebut bermuara pada FIRMAN, yakni :
1. Nasib
(bd: Kej 1:26-29 ; I Joh 4:4-6 ; & I Joh 5:18-19)
Kehidupan dan penghidupan manusia mutlak ditangan Tuhan, baik dulu, kini maupun masa yang akan dating, manusia murni karya Allah. Artinya umat Tuhan tidak hidup sesuai nasib melainkan menurut sumber nasib itu sendiri yaitu Allah melalui Yesus Kristus.
2. Keberuntungan
(bd: Kej 39:3 ; Rom 5:5 ; Yak 1:17 ; I Kort 15:58 & Yoh 3:16)
Satu-satunya keberuntungan manusia yang paling abadi/sejati adalah dengan telah digenapiNya janjiNya yaitu Juruselamat olek kasih karunia, sehingga KESELAMATAN terbuka bagi semua orang tanpa pandang bulu dan batas waktu. Keberuntungan duniawi (rejeki-sukses) sifatnya temporer namun sumbernya perlu diingat juga berasal dari Tuhan, karena tidak ada yang terjadi didunia ini atau dalam hidup seseorang tanpa disengaja atau untung-untungan tetapi hanya oleh perkenan Tuhan.

3. Penenpatan Diri
(bd: Yoh 4:2-6 ; Mark 16:15 & Yoh 15:4-7)
Posisi dan Peran umat Tuhan benar-benar menjadi garam dan terang dunia, bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Penempatan diri yang dimaksud juga identik dengan Tritugas Kristiani yakni Bersekutu, Bersaksi dan Melayani sehingga bagi orang yang percaya Rumah Bapa (sorga) menjadi tempat tujuan terakhir bukan maut atau penghukuman.
4. Kebajikan
(bd: Gal 5:22 ; Yak 1:5 ; Yak 3:13-14 & Ams 11:2-4)
Adalah merupakan wujud (realisasi) dari tindakan/perbuatan yang berdasarkan buah-buah Roh (-Kasih, sukacita, damai sejahtera, Kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri-) dalam Iman dan tidak dengan motivasi kepentingan diri sendiri, sombong, bohong atau pura-pura.
5. Pendidikan
(bd:Ams 1:7a ; Ams 10:14 & I Kort 13:19)
Baik melalui jalur formal (sekolah) atau nonformal (pengalaman) firman Tuhan mennyebutkan bahwa “takut akan Allah adalah awal dari pengetahuan”. Pengetahuan tanpa Iman adalah malapetaka karena tidak ada pengetahuan manusia yang sempurna (ferfect). Sementara Iman tanpa pengetahuan juga bohong. Maka Iman dan pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Benar tidak kelima faktor diatas berpengaruh terhadap kehidupan seseorang tergantung dari sudut mana kita persfektifkan.
Pengalaman penulis menyimpulkan Feng Shui dapat menjadi “extra value” dipelbagai profesi dalam pengaplikasian bidang ilmu masing-masing. misalnya: pendeta/penginjil, dokter, arsitek, konsultan bisnis, psikolog, filsuf dsb.
Yang perlu diingat, kala umat Tuhan dalam interaksi dengan sesama harus tetap menginterprestasikan Feng Shui sebagai Seni Tata Letak dan tetap pada koridor persfektif Iman Kristiani.

Tuhan Memberkati.
oleh: St.R.Siallagan – GKPS Semarang

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Wednesday, November 4, 2009 0 komentar

Pada hari Minggu tanggal 20 September 2009 telah dilaksanakan perayaan pesta olob-olob GKPS Resort Surabaya di GKPS Denpasar-Bali dengan sukses. Semua jemaat sangat antusias mengikuti seluruh acara yang dirangkai dalam 3 rangkaian acara yaitu pra-perayaan, ibadah olob-olob, dan hiburan/lelang setelah ibadah.
Adapun pra-perayaan olob-olob dilaksanakan satu minggu sebelum perayaan tepatnya tanggal 13 September 2009.

Kegiatan pra-perayaan merupakan rekreasi bersama di pantai Nusa Dua yang kurang lebih berjarak 40 Km dari lokasi gereja. Kegiatan diawali dengan makan bersama, kemudian dilanjutkan dengan beberapa games antara lain, sarung berantai, pesan berantai, berpacu halleluya, dan ikatan emosional suami-istri. Semua games membutuhkan konsentrasi dan kerjasama yang baik tentunya. Rangkaian acara pra-perayaan ini dikoordinir oleh Ny. E. Purba br. Saragih. Anak-anak sekolah Minggu pun bermain bersama di pinggiran pantai. Seluruh jemaat mengikuti acara sampai selesai dihiasi canda tawa dan rasa sukacita hingga sore hari.
Seminggu kemudian, Minggu tanggal 20 September 2009, dilaksanakan acara puncak perayaan olob-olob yang diawali kebaktian Minggu. Nuansa berbeda langsung dirasakan ketika berada di gereja. Perayaan olob-olob kali ini seluruh jemaat memakai pakaian adat Simalungun lengkap dengan Bulang bagi kaum inang dan gotong bagi kaum bapak. Hal ini tentu menambah semarak dan kemeriahan perayaan olob-olob resort Surabaya ditambah hadirnya beberapa warga GKPS Surabaya. Selain itu, pada saat acara berlangsung posisi duduk suatu keluarga selalu bersamaan. Sesuai dengan tahun keluarga yang ditetapkan oleh GKPS pusat tahun ini. Pelaksanaan ibadah diawali dengan prosesi yang disambut dengan tarian adat Simalungun oleh dua orang anak sekolah minggu yaitu Tasya br. Damanik dan Novri br. Purba. Prosesi ini menyambut para pelayan/petugas ibadah antara lain Pdt. I. Sipayung sebagai Paragenda, Pdt. Rusmala Dewi Munthe sebagai pembawa Firman Tuhan, Vic. Pdt. Rolandi Situmorang sebagai pembawa pujian, dan beberapa orang Majelis. Pada saat ibadah semua kategorial baik bapa, inang, pemuda, dan sekolah minggu terlibat dalam menampilkan persembahan pujian yang sangat kreatif. Seluruh jemaat memuji nama Tuhan dengan penuh sukacita diiringi pemuda yang memainkan musik. Perayaan dilanjutkan dengan Firman Tuhan yang dibawakan oleh Pdt. Rusmala Dewi Munthe pun menambah semangat hidup setiap jemaat. “Atap aha pe na masa, marolob-olob!!!, marolob-olob, atap aha pe na masa!!!”, seru Pdt. Rusmala Dewi Munthe dibalas oleh semua jemaat.
Seusai ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan pesta olob-olob meliputi hiburan dan lelang. Acara diawali dengan makan siang bersama. Sambil menikmati makan siang, ketua Panitia bapak H. J. Sipayung, S.T. menyampaikan sambutan yang intinya adalah menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh jemaat yang mau ikut berpartisipasi menyukseskan pesta olob-olob kali ini. Dilanjutkan pula kata sambutan dari Pendeta Resort. Untuk kita ketahui bersama, panitia pesta olob-olob Resort Surabaya kali ini terdiri dari bapak H. J. Sipayung, S.T. (ketua), bapak J. Sipayung (Sekretaris), dan bapak E. Purba (Bendahara). Lelang pun dapat berlangsung dengan baik dengan melibatkan setiap jemaat.
Pada acara hiburan, semua kategorial ikut terlibat tak terkecuali kategorial bapa yang memang kali ini terlihat sangat kompak. Bukti dari kekompakan tersebut berlanjut dengan berhasilnya bapa memenangkan quiz per kategorial yang disusun oleh Vic. R. Situmorang, sedangkan untuk quiz per keluarga dimenangkan berturut-turut oleh keluarga D. Simarmata, H.J. Sipayung, dan E. Purba. Ini bukti semangat dari semua jemaat dalam mengikuti quiz. Acara dilanjutkan manortor bersama dengan segala jenis tortor dari tiap sektor yang kemudian memberi jagar-jagar kepada panitia yang berlangsung dengan begitu meriah. Demikianlah rangkaian acara ibadah dan perayaan pesta olob-olob resort Surabaya. Semoga lewat perayaan pesta olob-olob ini, kita semua dapat mengingat kembali bagaimana semangat pada penginjil terdahulu dalam memenangkan jiwa-jiwa untuk kemuliaan nama Tuhan di tanah Simalungun. Selamat marpesta olob-olob ma banta ganupan, Tuhan Yesus memberkati!!

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Sunday, November 1, 2009 0 komentar

Pernahkah Anda berada di posisi dimana Anda harus mengatakan sesuatu yang Anda ketahui itu salah, tetapi tidak Anda katakan karena merasa tidak enak hati? Bagaimana rasanya? Pastinya tidak enak karena pikiran dan hati nurani kita berperang ketika itu.

Sewaktu SMP, saya dikenal cukup baik oleh guru-guru saya. Bukan apa-apa, selain karena saya dilihat memang tidak macam-macam, prestasi dalam bidang akademik turut menunjang citra saya di depan mereka. Mereka begitu percaya dengan apa yang saya katakan.

Suatu kali, teman sebangku saya dipanggil ke ruang guru oleh salah seorang guru yang mengajar di kelas kami. Ia disuruh menghadap karena dicurigai bahwa teman saya ini mencotek pekerjaan rumah seseorang. Saya tidak ada firasat ketika itu bakal turut dipanggil. Namun, tiba-tiba seorang teman dari kelas lain memanggil saya dan mengatakan bahwa saya harus ke ke ruang guru saat itu juga.
Jujur, pada saat itu saya bingung karena saya tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Singkat cerita, saya pun berada di depan ke dua laki-laki berbeda usia ini. Pak guru kami pun menanyakan kepada saya, apakah teman saya ini mencontek pekerjaan rumah saya. Pertanyaan itu sungguh sulit saya jawab saat itu karena yang sedang "didakwa" ini adalah teman saya, tetapi ada satu pertentangan dalam hati saya yang berkata untuk saya jujur. Tidak sadar lima menit berlalu dan guru saya masih menunggu jawaban saya. Anda tahu saya berkata apa sama guru saya? Saya katakan teman saya tidak mencotek pekerjaan rumah saya dan pak guru mempersilahkan kami berdua meninggalkan ruangan. Teman saya begitu senang dan berterima kasih atas apa yang saya lakukan. Tapi, saya tidak karena saya telah berbohong kepada guru saya.

Peristiwa tersebut masih teringat oleh saya selama beberapa tahun setelah saya lulus SMP. Rasa penyesalan timbul bila kenangan itu muncul dan Tuhan tahu akan hal tersebut. Dalam satu pertemuan ibadah, Tuhan menyentuh hati saya dengan kasih-Nya. Sentuhan ini membawa saya ke dalam pertobatan dan pemulihan. Peristiwa dimana saya berbohong kepada guru di waktu SMP itu pun sudah tidak lagi menghantui. Iblis tidak lagi berkuasa atas saya! Tuhan hari demi hari mengajar saya untuk hidup dengan jujur. Kasih-Nya yang tulus membuat saya mengerti apa itu kejujuran yang sejati.

Saat ini mungkin diantara Anda ada yang sedang bergumul untuk hidup jujur. Ada satu ketakutan ketika Anda akan melakukannya: takut akan ditinggalkan teman, takut akan menyakiti hati orang lain; takut tidak naik jabatan. Jika Anda berfokus kepada ketakutan-ketakutan, percayalah, Anda tidak akan pernah bisa hidup jujur. Oleh karenanya, mulailah serahkan ketakutan-ketakutan itu kepada Tuhan dan biarkan kasih Allah menguasai hidup Anda. Ketika kasih itu mengalir maka Anda akan dapat bercerita dengan jujur kepada Tuhan dan orang-orang yang Anda temui persis seperti yang Dia inginkan.

Berkata-kata dengan terus terang adalah bukti bahwa Allah tinggal di dalam hidup kita.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Tetap aktif
Salah satu cara yang dapat anda lakukan untuk mengurangi kebosanan adalah berolahraga. Meskipun hal itu sangatlah sulit untuk memulainya ketika anda lelah, olah raga dapat segera meningkatkan level energi. Aktivitas fisik capat menguntungkan bagi siapa saja yang menjalankannya, begitu juga penderita Hepatitis yang menjalankannya. Hal ini sangatlah penting, sebagai bagian untuk menghadapi kelelahan akibat penyakit kronis. Cobalah olah raga secara teratur, meskipun anda enggan melakukannya.
Selain meningkatkan energi level anda, olah raga juga dapat mengontrol berat badan anda, dimana sangat penting bila anda menderita Hepatitis. Pilih tipe dan level olah raga sesuai dengan anda sewaktu anda masih fit sebelum sakit dan berapa banyak aktivitas yang masih dapat anda toleransi. Jika dulunya anda bermain tenis lapangan, anda dapat juga melakukannya lagi, jika anda pikir menyukainya. Tetapi jika ternyata tenis lapangan menjadi begitu sulit buat anda, cobalah olahraga dengan bentuk lainnya yang lebih ringan. Walaupun bila anda sebelumnya tidak pernah olah raga, anda dapat memulainya sekarang. Ingatlah untuk menjalankannya secara perlahan-lahan. Olah raga pilihan yang baik diantaranya: Berjalan, Berenang, Bersepeda, Yoga atai Tai Chi, Aerobik ringan di kelas atau dengan video.
Berjalan adalah pilihan terbaik
Anda dapat melakukannya dimanapun, dan berjalan adalah
aktivitas yang baik untuk dilakukan bersama teman atau anggota keluarga lainnya. Sejalan waktu tingkatkan denyut jantung dan jarak tempuh anda. Perlengkapan khusus yang anda butuhkan hanyalah sepasang sepatu jalan. Jika anda melakukan olah raga jalan di luar rumah, gunakan sunscreen, gunakan pakaian yang berwarna cerah di hari yang panas dan sweater di hari yang dingin.
Keuntungan berolah raga
Mengurangi kelelahan, Memudahkan untuk tidur dan tidur lelap, Tidak mudah sakit,
Meningkatkan kekuatan otot untuk menjalankan aktivitas harian, Menghilangkan stress, Menguarangi depresi dan rasa cemas, Meningkatkan rasa percaya diri.
Cukup istirahat
Istirahat yang cukup dan tidak berlebihan adalah cara lain untuk menghadapi kelelahan. Cara terbaik untuk mendapatkannya adalah menjaga waktu tidur anda sehingga anda dapat tidur secara penuh di malam hari. Anda mungkin dapat melakukan tidur siang singkat (30 hingga 45 menit) di antara kegiatan anda atau di akhir kegiatan untuk menghindari kelelahan.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Wednesday, October 28, 2009 0 komentar

Saat ini terdengar lantunan Jingle Bell Rock dari si anak ajaib Connie Talbot. Juga segelas kopi menunggu panasnya berkurang untuk dapat diminum. Ah, kiranya natal sudah semakin dekat. Natal yang selalu membawa haru biru di hati. Melekatkan lagi semua peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi pada diri ini. Seperti sedang merekatkan kepingan-kepingan puzzle yang berserakan di lantai. Mengingat-ingat letak demi letak, sudut demi sudut.
Ketika orang-orang lain merayakan natal dengan penuh keceriaan, tak tau kenapa aku selalu merasa sedih. Bukan sedih karena kesendirian ataupun kesepian. Buatku natal seperti mengingatkanku pada diri sendiri. Waktu yang benar-benar tepat untuk bercermin dan merefleksikan kejadian-kejadian yang pernah dialami. Baik diperbuat dengan sengaja ataupun dibawa oleh sebuah kebetulan.

Saat natal aku selalu melihat lagi, tahun ini sudah berbuat apa saja. Sudahkah melakukan yang baik? Sudahkan menjadi lebih berarti bagi orang lain? Atau tahun ini sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya? Tidak bertambah baik atau bahkan bertambah buruk?

Saat natal aku selalu berhitung dengan Tuhan. Berkat apa yang telah Dia berikan tahun ini kepadaku? Apakah sudah kusyukuri semua berkatnya? Apakah sudah kujalankan semuanya demi namaNya? Atau aku malah telah menyakiti hati kudusNya? Mengotori mulutku dengan menyebut namaNya secara tidak pantas?

Natal adalah sebuah cermin. Di mana aku bisa melihat gambaran diriku lagi secara utuh. Tidak terpotong-potong oleh amarah ataupun keragu-raguan. Di mana saatnya merangkum semua berkat dan menaruhnya di album pujian dan syukur. Di mana dosa dan kesalahan terkubur dalam sakramen tobat. Di mana kelegaan hati menjadi begitu lapang karena dimaafkan kembali.

Natal adalah sebuah teropong. Di mana aku bisa melihat gambaran tempat nanti kumenepi. Di mana arah dan tujuan kembali disusun. Menentukan satu tahun ke depan dengan segala rencana-rencana muluk. Yang mungkin saja akan terlupakan hilang bersama usainya musim penghujan. Di mana harapan terbentang luas kembali. Setelah tampaknya apa yang dicita-citakan tahun ini belum berhasil.

Ah, natal memang mencampurkan sejuta perasaan di hati... Hati yang percaya, yang rindu akan belai kasihNya. Hati si anak hilang yang kemudian lahir kembali...

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Apakah yang telah Anda katakana kepada diri sendiri mengenai apa yang harus Anda lakukan untuk memperoleh kebahagiaan?? Sejauh manakah Anda harus bekerja? Berapa jamkah Anda harus menyelesaikannya?? Menurut pendapat Anda, berapa lamakah Anda memerlukan kerja lembur?
Banyak di antara kita yang terperangkap pada pendapat bahwa Anda harus mencari kebahagiaan, misalnya, “Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada makan siang gratis.” Kita sering berprasangka.

Kita sering berpikir yang bukan-bukan. Akibatnya kita harus bekerja keras agar dapat memperoleh kebahagiaan. Anda harus berpikir tentang kemungkinan bahwa kabahagiaan itu tidak perlu dibeli, karena kebahagiaan itu gratis. Kebahagiaan itu telah ada dalam diri Anda.
Jadikan gagasan ini untuk menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi Anda. Katakan kepada diri sendiri, “Penghalang bagi kebahagiaan adalah…” Kemudian dengarkanlah jawaban Anda. Tekad Anda. Tekad Anda untuk menyingkirkan hambatan tersebut mak akan membebaskan diri Anda. Kebahagiaan itu gratis, Anda tidak perlu membelinya. Ben Renshaw.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Wednesday, October 21, 2009 0 komentar

Vic. Pdt. Jan HA Purba, Domma laho salpu ma Tahun wanita. Sadalan hujai sungkun-sungkun ope ibagas uhur aha do nani na boi ibuat wanita kuria on na boi gabe sada joloman bani sidea. Halani ai ipungkah bani Bulan Juni ibahen hanami do kuis-kuis Alkitab bani wanita tiap minggu, janah bani rencana bulan November ibuat do juara umum.

Tarima kasih bani Kristus Jesus, aktif do wanita mandihuti kuis on, janah ibere do panorang bani sidea mangisi ibagas saminggu. Itambah homa penekanan-penakanan sanggah PA wanita na ilaksanahon 2 kali sabulan. Tujua ibahen kuis Alkitab on aima ase roh rajin sidea mambasa Alkitab janah martambah homa pambotoh ni sidea pasal Hata ni Naibata. Kuis on ibahen Bp. St. W. Saragih pakon Vic. Pdt. 
Jan HA. Purba. Setiap minggu adong do 8 pemenang kuis. Janah salosei kebaktian ibagi ma hadiah bani sidea. Tarima kasih bani haganup Majelis Jemaat GKPS Denpasar na gabe sponsor hadiah.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2009. Kembali toko-toko, gedung-gedung, dan hotel-hotel diwarnai dengan berbagai hiasan natal, indah sekali. Kantor pos ramai dikunjungi orang yang ingin mengirim kartu ucapan “ Selamat Natal” Gereja-gereja, persekutuan doa dan yayasan-yayasan Kristen mulai sibuk mengadakan persiapan untuk merayakan hari besar ini. Dirumah-rumah orang Kristen sibuk menyiapkan natal bagi keluarganya dengan sebaik-baiknya. Tanpa sadar sikap tersebut mengesankan natal adalah sebuah pesta duniawi yang serba wah, serba hura-hura, sampai lupa pada makna natal itu sendiri, ini bertentangan dengan sikap orang majus, mereka menyambut natal dengan cara datang dan menyembah Dia. Allah dapat memakai apa saja dan semua cara untuk mewujudkan kehendakNya.

Salah satunya Tuhan memakai bintang yang telah menjadi penuntun bagi orang majus.Pernahkah saudara, kenapa bintang cuma ada kalau malam? Sebab bintang baru bisa memancarkan sinarnya ditengah kegelapan malam.
Kalau tidak ada bintang di langit yang gelap, maka malam itu tidak akan indah. Sebaliknya kalau malam yang gelap, banyak bertabur bintang-bintang yang gemerlap, malam itu akan menjadi indah. Demikian juga dengan hidup kita, jika hidup kita memancarkan sinar terang ditengah kegelapan, yaitu sinar kemuliaan Kristus, maka hidup kita akan jadi lebih indah. Setiap orang ingin menjadi bintang. Banyak orang yang memakai berbagai cara untuk menjadi bintang misalnya bintang film, bintang lapangan, bintang TV, bintang radio, dan lain lain. Sepertinya bintang ini penting sekali dalam kehidupan seseorang. Mereka berpikir kalau mereka menjadi bintang, mereka akan disukai oleh banyak orang, mereka akan diterima oleh banyak orang, mereka bisa mendapat segala-galanya. Sebenarnya itu semua semu, tidak ada bintang film, bintang lapangan yang kekal ada masanya mereka harus digantikan oleh orang lain, oleh generasi yang lebih muda. Jadi apa yang mereka kejar sifatnya sementara dan akhirnya menjadi sia-sia. Semua usaha kita untuk menjadi bintang akan sia-sia diluar Tuhan Yesus. Cuma karena anug’rahNya kita bisa menjadi bintang yang bercahaya ditengah kegelapan, bintang yang memancarkan terang kasih Tuhan. Bagaimana kita bisa menjadi bintang yang memancarkan terang kasih Tuhan ? Bukan dengan kekuatan kita sendiri tapi oleh karena anug’rahNya. AnugrahNya cukup bagi kita bahkan berlimpah.
Kita dipanggil bukan karena kelebihan kita
Kita dipanggil bukan karena kekayaan kita
Kita dipanggil bukan karena kebaikan kita
Kalau Tuhan pilih yang terbaik mungkin kita tidak ada yang terpilih, banyak orang yang lebih baik dari kita, tapi kita dipanggil oleh karena anug’rahNya.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Tidak terasa, kita telah memasuki masa-masa akhir dari tahun 2009. Seperti biasa, hal ini menandakan bahwa Natal sudah dekat. Apakah natal tahun ini akan tetap bermakna bagi kita semua?? Ada sedikit cerita tentang siapa yang merupakan inti utama dari perayaan Natal itu sendiri, agar kita tidak lupa...




Salah seorang artis terbesar yang karyanya dikagumi orang sejagad adalah
Leonardo da Vinci. “The Last Supper” - karya lukisannya yang menggambarkan
suasana perjamuan antara Yesus dengan murid-murid-Nya diyakini sebagai karya
terbesar di dunia. Diceritakan, setelah da Vinci menyelesaikan karyanya itu, ia
mengundang salah seorang kawan untuk melihat lukisan tersebut.
Setelah diamati dengan seksama, kawannya itu berkata kepada da Vinci,
“Cawan di atas meja itu begitu indah. Inilah yang terindah dari semua obyek dalam
lukisan ini.” Setelah kawannya pergi, da Vinci mengambil palet, kuas, dan
beberapa alat lukis lainnya, kemudian ia menyingkirkan cawan yang indah tersebut.
Saat ditanya alasannya, da Vinci menjawab bahwa ia tidak ingin orang
mengalihkan perhatiannya dari Yesus. “Haruslah Kristus yang menjadi pusat
perhatian pada lukisanku,“ jawab da Vinci.
Bagi Leonardo da Vinci, Yesus harus menjadi pusat dari segalanya. Ia
menganggap bahwa Yesus adalah yang terutama. Jika da Vinci tidak mengenal
Tuhannya dengan baik atau menganggap Yesus hanyalah manusia biasa yang sama
saja dengan nabi-nabi lainnya, ia tidak akan menaruh perhatian yang begitu serius
untuk menempatkan Yesus sebagai pusat perhatian dalam lukisannya.
Saudara, seberapa penting Kristus dalam hidup kita, tergantung dari
pengenalan kita akan Dia. Bila kita menganggap Yesus tidak lebih dari seorang
Guru yang baik, kita tidak dapat memberikan penghargaan yang tertinggi kepada-
Nya. Kita akan ragu-ragu untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya.
Pengakuan Petrus bahwa Dia adalah Mesias merupakan jawaban yang
tepat. Mesias berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Yang Diurapi” atau dalam
bahasa Yunani: Kristus. Mesias merupakan pengharapan orang Yahudi, sebab
melalui Mesiaslah bangsa Israel akan mencapai puncak kejayaannya. Nah, bangsa
Israel yang dimaksud di sini adalah bangsa Israel secara rohani. Tetapi bagi
sebagian orang Yahudi, arti Mesias adalah pemimpin politik yang akan melepaskan
mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Padahal Yesus sendiri berkata bahwa
kerajaan-Nya bukanlah berasal dari dunia ini (Yoh. 18:36). Karena itulah mengapa
Ia melarang murid-murid-Nya memberitahukan orang Yahudi bahwa Dia adalah
Mesias, sebab Ia tidak ingin orang-orang memaksanya menjadi raja yang akan
memimpin pemberontakan melawan bangsa Romawi. Saudara, pengakuan
bahwa Yesus adalah Mesias kiranya menjadi pengakuan kita. Mesias yang kita akui
ini adalah Tuhan yang telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus manusia. Jadi
janganlah ragu untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya.
Renungan:
Berapa tahun Anda telah mengiring Tuhan, namun Anda masih sulit
mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat? Jangan samakan Dia dengan
pemimpin agama lainnya, sebab Dia adalah Allah yang telah mengosongkan diri-
Nya dan menjadi manusia.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Monday, October 19, 2009 0 komentar

Kembalikan ingatan Anda pada suasana pagi hari ketika Anda bangun tidur pada hari ini. Anda bangun pagi dengan perasaan ceria atau murung?? Anda menyapa pagi hari dengan ‘Selamat pagi Tuhan,’ atau ‘Astaga!’ Pagi hari? Jelasnya, pilihan apakah yang Anda lakukan ketika mula-mula terbangun? Ketika saya mengajukan pertanyaan ini kepada orang banyak, jawabannya antara lain: “Kancingkan baju saya.”,

“Memberi makan anjing.” Ini merupakan bahan inspirasi. Kemudian ketika saya bertanya apakah mereka dengan sadar memilih kebahagiaan, ini merupakan peristiwa langka.
Sangat mudah melupakan kebahagiaan sebagai pilihan kita. Sebagaimana kita memilih pakaian dari lemari kita, kita juga dapat melakukan pilihan dalam kehidupan ini. Memilih kebahagiaan bagaikan mengancingkan kancing baju dengan sengaja. Niat yang kuat, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan menuai kegembiraan yang luar biasa.
Jangan sia-siakan peluang yang akan datang. Sambut pagi besok, pilihan kebahagiaan dan saksikan, betapa pilihan itu akan memberikan inspirasi kepada Anda sepanjang hari. Kebahagiaan adalah pilihan. Ben Renshaw.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Thursday, October 15, 2009 0 komentar

Bulan September ini adalah masa-masa kita merayakan 106 tahun Injil di Simalungun, sebuah peristiwa penting 2 September 1903, saat August Theis menyampaikan khotbah pertama dari kitab Yohannes 4:35 di bumi Simalungun, persisnya di Pematangraya. Berita kesukaan dan damai itulah yang kemudian hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Simalungun. Babtisan pertama pada 1909, disusul berdirinya jemaat-jemaat sebagai wadah persekutuan, kesaksian dan pelayaanan, adalah panenan dari semaian Injil tersebut.

Fakta sejarah menunjukkan, bahwa banyak orang Simalungun kemudian berperan dalam meluaskan berita damai dan kesukaan itu. Mendirikan Kongsi Laita, bersaksi dari rumah ke rumah, meterjemahkan buku-buku atau Bibel ke dalam bahasa Simalungun. Bahkan untuk membiayai kegiatan mereka dibentuk Fonds Saksi Kristus. Bahkan Firman itu tidak berhenti di lokasi tertentu, tetapi menyebar ke seluruh wilayah Simalungun.

Kehadiran Injil tidak hanya membuka mata orang Simalungun tentang arti Tuhan dalam kehidupannya, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya ilmu pengetahuan. Hal yang memberinya bekal pemahaman pengelolaan alam dan lingkungannya bagi kehidupan sehari-hari, serta pengaturan hubungannya dengan sesama manusia. Bisa kita baca berbagai literatur bagaimana pada awalnya berbagai sekolah yang berdiri dan sekaligus sebagai tempat-tempat kebaktian. .

Berita damai dan kesukaan dan pengetahuan yang mereka peroleh merubah cara pikir dan kehidupan orang Simalungun : keluar dari cara berfikir kuno, dari kehidupan ”hadatuon” menjadi hidup yang ”percaya kepada Kristus”, dari pendewaaan benda, atau manusia, berubah menjadi masyarakat yang percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas hidupnya. dari penyelesaian masalah kehidupan dengan ”perang” berubah dengan pendekatan damai, dari masyarakat buta huruf menjadi masyarakat yang tau baca, dari masyarakat kuno yang statis menjadi berfikiran modern, dinamis dan ingin terus berubah ke arah kehidupan yang lebih baik. Dari keinginan saling membenci, bahkan ”perang” sebagai sebuah solusi, berubah menjadi masyarakat yang saling mengasihi sesamanya bahkan mahluk hidup di sekitarnya.

Secara kelembagaan gereja, lima puluh tahun kemudian, telah memampukan para tokoh-tokoh Simalungun memimpin wilayah Simalungun dalam penyebaran Firman sekaligus memimpin lembaga-lembaga yang ada di bawahnya dengan cara-cara yang berlandaskan kasih dan cinta damai.
Sebuah proses yang berlangsung damai dan penuh kasih. Kemudian terbentuk sebuah Distrik pada 26 September 1940 dan HKBPS (Huria Kristen Batak Protestan Simalungun) pada 5 Oktober 1952, dibawah seorang pemimpin rohani Pendeta Pendeta. J Wismar Saragih—pendeta pertama orang Simalungun, yang menjadi Praeses/Wakil Ephorus HKBPS. Akhirnya, HKBPS manjae menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) pada 1 September 1963.

GKPS memiliki Ephorus dan mandiri, terlepas dari HKBP. Sejak itu, para pemimpin GKPS mulai dari J Wismar Saragih (1952-1960), Pdt A Wilmar Saragih (1960-1962), Pdt JP Siboro (1962-1970), Pdt Lesman Purba (1970-1972), Pdt Samuel P Dasuha (1972-1977), Pdt Armencius Munthe (1977-1990), Pdt Jansiman Damanik (1990-2000), Pdt Edison Munthe (2000-2005) dan kini Pdt Belman P. Dasuha (2005-2010). Mereka didampingi sekjen seperti Pdt Hamonangan Girsang, Pdt Sahala Girsang dan Rumanja Purba, dan pernah ada tiga sekjen yang kemudian menjadi Ephorus, yakni Pdt A.Wilmar Saragih, Pdt Lesman Purba dan Pdt Armencius Munthe. Tanpa mengabaikan nama-nama lain yang perannya juga sangat besar dalam pekerjaan Tuhan, tetapi tidak mungkin disebut satu per satu dalam artikel pendek ini.

Dibawah kepemimpinan para pemimpin di atas, secara fisik GKPS sudah bertumbuh pesat. Kini kita bisa menyaksikan lebih dari 210 ribu jemaat tersebar di lebih dari 600 jemaat, tersebar tak kurang dari 20 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Mewujudkan pelayanannya di tengah-tengah jemaat dan masyarakat luas, GKPS didukung lembaga-lembaga seperti pendidikan (Badan Pendidikan GKPS), kesehatan (Badan Kesehatan GKPS) dan pengembangan masyarakat (Pelpem GKPS, Panti Karya GKPS, Panti Karya Bumi Keselamatan Margaretha GKPS) dan Women Crisis Center GKPS. Bahkan GKPS sudah mendirikan Badan Usaha GKPS dengan tujuan menciptakan pendapatan lain mendukung pelayanan yang semakin meningkat.

Merayakan 106 tahun GKPS, tentu kita tidak terlepas untuk merenungkan kembali cara-cara bertindak dalam mengambilan keputusan di masa lalu. Baik oleh para pemimpin kita serta tokoh-tokoh gereja GKPS yang mampu membawa warga pada keadaan sekarang ini. Ada pesan yang perlu disimak dari nilai-nilai yang disampaikan August Theis 2 September 1903 dan bagaimana proses ”manjae” nya GKPS 1963 sampai sekarang ini.

Pesan damai dan saling mengasihi dengan ditaburnya Injil pertama kali 2 September 1903 dan berbagai cara damai yang ditempuh para pemimpin GKPS di masa lalu, seyogianya menjadi prinsip hidup di dalam jemaat kita saat ini. Sebuah pendekatan yang berbeda dengan cara-cara ”perang”—mengandalkan otot, kekuasaan dan kekayaan. Pendekatan damai dan saling mengasihi, sebuah nilai yang harus terus dipertahakan dalam kehidupan GKPS masa kini.

Sebuah catatan penting dan kadang kita lupakan!. GKPS ”manjae” (berdiri sendiri) dari HKBP-- induknya selama enampuluh tahun, melalui proses damai. Sebuah cara khas Simalungun di bawah bimbingan Tuhan. Banyak orang memuji pendekatan ini. Tidak sedikit orang di luar GKPS hingga sekarang memuji cara terbaik yang dilakukan masyarakat GKPS dalam memelihara perdamaian. Buah dari Injil yang memberi kita sebuah kebijakan dalam mengambil keputusan.

GKPS dianugerahkan Tuhan memberikan warna kepada sekitar kita berupa kehidupan warga yang rukun dan damai. Sekaligus sebagai sebuah ”cahaya” di tengah hingar bingarnya pertikaian di sekitar kita. Tidak hanya itu, sebuah jemaat kecil yang berangota hanya 210 ribu, telah memberi andil yang walaupun ”kecil” di tengah-tengah bagsa yang berpenduduk lebih dari 230 juta ini. .

Tentu, jemaat GKPS harus mensyukuri nikmat dari Tuhan. Bahwa peran ”jemaat kecil” ini adalah nyata di tengah-tengah bangsa ini--baik secara lembaga maupun secara individu. Kita menyaksikan bagaimana anggota-anggota jemaat GKPSpun bertumbuh dalam intelektual, berperan sebagai pelaku ekonomi, aktor-aktor politik, dan pelaku dalam berbagai bidang kehidupan lainnya.

Berbagai penghargaan seperti ”Kalpataru”, serta berbagai penghargaan bangsa ini, serta kesempatan bagi beberapa anggota jemaat GKPS memimpin lembaga-lembaga penting, dan berkarya memberi yang terbaik membuktikan hal itu.

Satu hal yang perlu menjadi catatan, bahwa kita tidak boleh berhenti dan mengabaikan perubahan yang terjadi, yang akan berjalan abadi. Seorang ahli, Will Roger memperingatkan kita. "Biarpun Anda berada di jalur yang benar, Anda akan tergilas jika Anda hanya duduk di sana." Kita harus memahami perubahan secara benar, merencanakan respons terhadap perubahan dengan tepat dan menciptakan kedamaian dan terang di tengah-tengah perubahan itu sendiri.

Ke depan kita berhadapan dengan perubahan sekaligus memelihara kedamaian dan ”hahomion” di tengah-tengah jemaat, dan tengah-tengah para pemimpin dan tokoh-tokoh gereja. Memasuki era globalisasi dan informasi yang demikian pesat, tidak bisa dihindari terjadinya perubahan-perubahan yang kadang tidak mampu kita baca. Bahkan sering memunculkan perbedaan cara pandang yang mempengaruhi kehidupan jemaat GKPS. Khususnya perubahan di bidang teknologi informasi yang sedemikian pesat, yang bisa memperlebar kesenjangan pengetahuan, taraf hidup jemaat. Tidak kalah pentingnya adalah perubahan perpolitikan negara ini yang setiap pemilu bisa mengundang potensi konflik di tengah-tengah jemaat.

Memang, harus disadari, dalam proses menilai perubahan dan cara mengantisipasinya, tidak tertutup kemungkinan adanya perbedaan pandangan. Sebuah hal yang yang wajar. Perbedaan pandangan adalah akibat dari perkembangan pengetahuan masing-masing yang tidak seragam, latar belakang kehidupan yang berbeda. Tapi kita tidak boleh berhenti dalam sebuah perbedaan yang bisa menyebabkan kita berbeda visi dan missi yang benar berdasarkan Firman yang tertulis dalam Kitab Suci kita.

GKPS harus membuka ruang yang lebih lebar wadah yang bisa mengakomodasi menjadikan perbedaan sebagai sebuah kekayaan untuk menghasilkan kreativitas jemaat, dengan tetap bersandar pada prinsip kebenaran dari Firman Tuhan.Di masa lalu, selain synode-synode resort dan jemaat, kita mengenal KGM (Konferensi Gereja dan Masyarakat). Hasil-hasil KGM (Konsultasi Gereja dan Masyarakat) menjadi salah wadah yang bisa menjembatani perbedaan-perbedaan dan menjadi salah satu input yang berharga bagi penyelenggaraan Synode Bolon (bagi anggota yang mau membacanya) dalam merencanakan program, dan juga bagi resort dan jemaat. Bahkan pada 2001 KGM pernah pernah dilaksanakan sampai di tingkat Distrik. Mudah-mudahan keputusan-keputusan yang akan diambil Synode berikut bisa mengakomodasi hal ini.

Selain itu, untuk merespon perubahan, GKPS harus mampu meninggalkan cara-cara kuno dan tradisionil dalam merencanakan atau melaksanakan program-program, kita harus mampu menghilangkan hal-ha primordial yang menghambat kemajuan. Kita harus bercermin bagaimana ketika nenek moyang kita meninggalkan cara tradisional di bidang pertanian, kesehatan, memiliki pandangan yang berbeda, setelah mereka menerima Injil dan pendidikan. Pemanfaatan teknologi perbankan yang sudah sangat maju, email dan penggunaan website bagi daerah-daerah yang sudah memungkinkan harus ditingkatkan pemanfaatannya. Semua sumberdaya yang ada dioptimalkan mewujudkannya.

Memasuki usianya ke 106 tahun ini, Synode Bolon dan Majelis Gereja dapat meningkatkan kualitas hasil-hasil keputusan-keputusan dan pengawasan atas pelaksanaan keputusan-keputusan itu. Perumusan GBKU dan pelaksanaannya harus menghindari kata-kata ”siparayakon”, sebuah kata-kata kuno yang seyogianya tidak kita dengar lagi di era modern sekarang ini. Para anggota Synode bersama jajaran di Resort dan jemaatnya, harus lebih aktif mengamati perubahan dan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Satu hal yang perlu diingat, bahawa Synode Bolon dan Sidang-sidang Majelis Gereja, harus menjadi wadah yang mampu menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi keagungan Tuhan, bagi penguatan iman jemaat. Seorang utusan LWF pada era 50-an mengingatkan : ”Sidang-sidang kita tidak sama dengan sidang Parlemen”.

Injil tidak hanya membuat melek mata jemaat, tetapi juga membawa perubahan makna kekuasaan dan pengembangan kepemimpinan. Injil mengajarkan kepemimpinan yang bersandar pada Yesus sebagai kepala gereja. Tidak ada seorangpun yang akan pernah menjadi ”raja” di gereja. Mereka yang memimpin adalah pelayan, menjalankan kepemimpinan rohani, kepemimpinan pelayan (servant leadership) yang sasarannya adalah kedamaian dan kesatuan jemaat.

Kita berharap, Pimpinan Pusat beserta seluruh jajarannya sampai ke jemaat, harus mampu mewujudkan hasil kerja yang meunjukkan keagungan (greatness), tidak lagi hanya soal efisisensi dan efektivitas tindakan yang menghasilkan performansi yang terlihat--uang atau prestasi fisik. Semua pekerjaan kita mampu meningkatkan kemampuan menciptakan pendekatan damai dan rasa saling mengasihi, serta meningkatkan tingkat kepedulian satu dengan yang lain. Atau dengan kata lain, mengutip Steven R Covey ”Mampu menyuarakan suarana dan memotivasi orang lain mengungkapkan suaranya”. Bukan saling meredupkan satu dengan yang lain.

Sebuah tantangan besar berada di depan kita. Missi Tuhan yang disampaikan melalui August Theis, kemudian dicanangkan dalam bentuk fundasi organisasi gereja oleh Pendeta J Wismar Saragih dan seluruh pimpinan sesudahnya, menjadi tugas kita seluruhnya lebih memahami situasi dengan benar, merencanakan dengan benar, melaksanakan dengan benar dan menikmati hasil-hasil pelayanan kita dengan benar. Tentu, semuanya dilaksanakan beradasarkan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Satu hal yang membuat kita optimis ke depan adalah bahwa semua jemaat merindukan kehidupan yang rukun, kita semua menginginkan kehidupan yang damai, seperti tertulis: ”Alangkah baik dan indahnya bila sesama saudara hidup rukun, karena kesanalah Tuhan akan memberitakan berkat dan kehidupan sampai selama-lamanya. (Mazmur 133). Selamat merayakan 106 Tahun Injil di Simalungun.
Oleh: Jannerson Girsang

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Monday, October 12, 2009 1 komentar

“Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mazmur 98:4). “Gembira” atau “Joy” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa Adven (meyongsong Natal). Selama masa Adven, gereja di Eropa pada abad ke-17 memiliki tradisi membaca kitab Mazmur. Isaac Watts (18 tahun) merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat Mazmur.

Ayahnya melihat hal ini. Maka dia memeberikan tantangan kepada Watts: “Anak muda, kalau kamu bosan dengan lagu Mazmur ini, mengapa kamu tidak menciptakan lagu yang lebih baik?” Tertantang oleh ucapan ayahnya, bocah Inggris yang sejak usia 5 tahun sudah fasih bahasa Latin ini segera membuka Mazmur 98:4-9. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul “The Messiah’s Coming and Kingdom”.
Untuk melodinya, Lawol Mason, seorang musisi dari Amerika mengadaptasikannnya dari komposisi George Frederick Handel, dari Jerman. Lagu ini kemudian popular dengan judul “Joy to the World” atau “Hai Dunia, Gembiralah”.
Perikop dalam Mazmur 98:4-9 menceritakan janji Tuhan yang akan memulihkan dan melindungi umat-Nya. Janji itu sudah digenapi dengan kedatangan Yesus ke dunia ini. Waktu remaja, saya mendapat janji dibelikan sepeda balap. Saya begitu menantikan janji itu digenapi. Dan ketika orang tua membelikan sepeda balap itu, hati saya meluap sukacita. Selama berabad-abad Allah menjanjikan keselamatan kepada umat manusia. Allah telah menggenapi janji itu. Maka, layaklah kita bergembira dan bersorak-sorai dalam memperingati penggenapan janji Allah itu.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Sunday, October 11, 2009 0 komentar

Hak kesulungan menunjuk kepada hak-hak istimewa atau keuntungan-keuntungan yang dimiliki oleh seorang anak sulung. Dalam sejarah kehidupan bangsan Israel, paling tidak ada tiga keistimewaan atau keuntungan yang dimiliki anak sulung, yaitu: pertama, dialah yang berhak menjadi imam dalam keluarga. Karena kesalahan Ruben maka Allah

menetapkan orang Lewi sebagai pengganti anak sulung dan berhak menerima jabatan imam (Bil. 3:12-13; 8:18). Kedua, anak sulung mendapa dua bagian warisan ayahnya (Ul. 21:15-17). Ketiga, anak sulung mendapat warisan kekuasaan ayahnya (2 Taw. 21:3). Daud menyerahkan kekuasaannya kepada Salomo dan bukan kepada Adonia. Dalam perkembangan pewahyuan, maka yang disebut yang sulung dari segala yang ada adalah Tuhan Yesus, Anak Allah.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Friday, October 9, 2009 0 komentar

10 Oktober 2008 yang lalu, di GKPS Denpasar telah dilaksanakan Pentas Seni dan Budaya Simalungun. Pentas Seni tersebut telah berlangsung dengan baik. Bagi kita semua yang ingin mengetahui bagaimana konsep acara tersebut dapat klik link berikut ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar

Simalungun merupakan daerah dengan julukan Lumbung beras di Prov Sumatera Utara yang didukung dengan sejumlah prasarana irigasi yang baik. Untuk mempertahankan julukan tersebut dan untuk mendukung tujuan pembangunan sector pertanian yakni melestartikan ketahanan pangan nasional yang didukung oleh prasarana irigasi yang mantap yang mantap.

Untuk itu, sejak tahun 2006 hingga saat ini Kab. Simalungun menjadi pilot project Water Resources and Irrigatio Sector Management Program (WISMP), dengan tujuan mengkonsolidasikan sector sumber daya air dan irigasi yang sudah disentralisasi serta lembaga pengelola irigasi di tingkat masyarakat yang telah dibentuk dalam rangka reformasi watsal.

Hal tersebut di katakana Bupati Simalungun dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Ir. Mahrum Sipayung, MS saat membuka sosialisasi SK Bupati Simalungun No. 188.45-229/Bppd tahun 2009 tentang redefenisi tugas kelembagaan pengelola irigasi Kab. Simalungun, bertempat di Siantar Hotel Pematang Siantar, Kamis kemarin.

Dikatakan, program WISMP ini dilaksanakan melalui penyelenggaraan proses penguatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat (Panriahan Pamokkahan, P3A, GP3A/IP3A) dalam mencapai peningkatan kinerja pengaturan dan perencanaan sector sumber daya air dan irigasi serta untuk meningkatkan kemampuan dan pendanaan dari instansi-instasi pemerintah terkait dan masyarakat petani pemakai air dalam menjaga keberlanjutan sector sumber daya air.

Selanjutnya dalam sambutan terbut Bupati mengatakan, SK ini juga merupakan salah satu kegiatan dari WISMP. Dalam SK ini redefinisi tugas kelembagaan irigasi meliputi instansi pemerintah, Panriahan Pamokkahan, P3A, GP3A/IP3A dan komisi irigasi.

Sedangkan penyusunan SK ini menurut Bupati, dilatarbelakangi pengembangan dan pengelolaan sisitem irigasi yang bertujuan mewujudkan kemanfaatan air dalam bidang pertanian yang diselenggarakan secara terpadu.

Di akhir sambutannya Bupati mengharapkan, kepada para peserta dalam sosialisasi ini diharapkan agar dapat mengikutinya dengan sungguh-sungguh dan dapat lebih memahami tentang redefinisi tugas kelembagaan pengelolaan irigasi Kab. Simalungun, sehingga dapat menghasilkan out put dan out come terhadap kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bappeda Simalungun Drs Jumsadi Damani, SH, M.Hum melaporkan sosilaisasi SK ini diikuti oleh 100 orang peserta yan terdiri dari unsure instasni pemerintah terkait, akademisi, PMS, penguru dan perwakilan anggota Panriahan Pamokkahan, (Perkumpulan Petani Pemakain Air) dan stakeholders.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Thursday, October 8, 2009 0 komentar

Seorang wanita pengusaha yang sangat sukses berkunjung kepada saya. Sekalipun rumahnya sangat megah, memiliki seorang anak yang rupawan, dan kehidupan yang nyaman, ia sangat menderita, putus asa, dan tidak berbahagia. Ia mengakui bahwa ia merasa kehilangan sesuatu: kebahagiaan.
Kita semua memiliki kisah tentang kebahagiaan dan bagaimana kebahagiaan itu menghilang dari diri kita.

Sejujurnya saja, siapapun orang kaya, cantik/tampan, atau orang terkenal. Persoalannya adalah, karena kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah.
Kebahagiaan tidaklah bersifat lahir, tetapi ia merupakan suasana batin. Belajarlah mengembangkan suasana batin yang memunculkan kebahagiaan. Bayangkanlah diri Anda terbebas dari kekhawatiran, belenggu, dan gangguan. Bayangkanlah hati Anda adalah sebuah danau yang tenang. Berusahalah untuk mengenyahkan pikiran-pikiran yang menggangu dan lihatlah gelembung-gelembung kebahagiaan akan muncul dari hati Anda. Jangan lagi mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Ben Renshaw.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR 0 komentar


Sungguh baik untuk menyadari bahwa Anda telah dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Sungguh mulia mengetahui bahwa Anda tidak perlu lagi tunduk pada perbudakan dosa. Tetapi apakah yang akan Anda lakukan ketika Anda masih luput dari kebenaran meskipun Anda sebenarnya telah hidup di dalam kebenaran yang baik dan mulia? Apakah yang akan Anda lakukan jika Anda tersandung dan jatuh ke dalam dosa? Berlarilah kepada Bapa dan bertobatlah!


Hal itu terdengar sederhana bukan? Tetapi anehnya kita sering melakukan hal yang sebaliknya. Kita sering membiarkan rasa takut dan rasa bersalah mendorong kita untuk semakin menjauh saja dari Dia. Bukannya berlari kepada Tuhan, kita malah mulai berpikir seperti ini, "Waduh, aku jatuh lagi. Sudah terlanjur seperti ini, lebih baik basah aja sekalian."

Janganlah melakukan kesalahan itu. Jangan biarkan iblis membujuk Anda untuk berdosa di segi kehidupan yang lain hanya karena Anda telah melakukan kesalahan di satu segi kehidupan. Bila Anda menyimpang dari Tuhan, akuilah saja dan kembalilah pada jalur yang benar.

Mungkin Anda berkata, "Tetapi saya sungguh-sungguh dipenuhi rasa bersalah sehingga rasanya saya tidak mampu untuk mengakuinya di hadapan Tuhan." Saya tahu. Dahulu saya juga merasa demikian. Kemudian, pada suatu hari, Tuhan berkata kepada saya, "Ketika engkau mengakui dosa itu di hadapan-Ku, itu bukanlah saat Aku mengetahui tentang dosa itu. Aku sudah mengetahuinya! Namun saat engkau mengakuinya, itu adalah saat engkau melepaskan diri dari dosa itu, saat engkau disucikan dari akibat-akibat dosa dalam hidupmu."

Bila Anda melakukan kesalahan, bila Anda menjauh dari kebenaran, ingatlah, Anda memiliki seorang pengantara pada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil (1 Yohanes 2:1). Berlarilah kepada-Nya! Dia tahu apa yang Anda alami. Anda tidak perlu takut. Sebelum Anda menjadikan Dia Tuhan atas hidup Anda, Dia tidak mencabik-cabik Anda untuk dosa-dosa yang telah Anda lakukan, bukan? Kalau begitu betapa lebih lagi Dia berkemurahan dan mengasihi Anda sekarang sejak Anda menjadi milik-Nya. Ya, sekarang sejak Anda menjangkau Dia dan mengasihi Dia.

Jangan berlari dari Tuhan. Berlarilah kepada-Nya. Terimalah pengampunan-Nya. Terimalah penyucian-Nya. Tidak peduli betapa buruknya perbuatan dosa Anda, Dia selalu mengampuni dan menyucikan Anda dari semua kejahatan.

Jangan jadikan dosa sebagai tameng untuk menjauh dari Allah, namun temukan kasih-Nya dan kenalilah pribadi-Nya secara nyata dalam hidup Anda.

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Wednesday, October 7, 2009 0 komentar

Pernahkah anda mengalami tidak yakin akan makna diri anda, tidak yakin apa prestasi
anda, tidak yakin untuk apa hidup anda, tidak yakin ke mana saat ini anda akan berjalan? Kalau mengalami hal seperti ini berarti anda sedang mengalami disorientasi, sebuah gejala batin di mana kita kehilangan arah dan pegangan hidup. Disorientasi bisa terjadi karena tekanan yang terlalu berat

pada saat terterntu, tetapi juga bisa dialami karena tidak mendisiplinkan hidup dalam kurun waktu yang cukup panjang. Disorientasi juga terjadi ketika membiarkan hidup kita di renggut dosa terus menerus tanpa membuka hati pada jalan Tuhan. Hidup yang sehat dipandu oleh nilai-nlai yang kita kejar, ditata dengan urutan prioritas, dikuatkan dengan semangat hidup. Untuk menghidarinya. Karena itu kalau anda mengalami diesorientasi, atau tidak mau mengalaminya, perhatikan beberapa langkah penting ini. Pertama, sadari betapa hidup kita berharga bagi Allah. Masmur 8 merefleksikan dengan mengatakan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? (Mazmur 8:5). Kedua, cari mutiara atau nilai nuhur apa yang kita cita-citakan dalam hidup ini? Ketiga, susun prioritas untuk memastikan bahwa hidup kita sunggu demi impian itu. Perhatikan pengalaman pencari mutiara: “setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu (Luk 13:46).” Dan jangan lupa mitalah kekuatan Roh Kudus untuk menguatkan perjalanan kita. Jadikan Tuhan pedoman untuk menemukan orientasi hidup anda. “Tuhan, kepadaMu kupercayakan hidupku.”

Ditulis oleh GKPS DENPASAR Tuesday, October 6, 2009 0 komentar

Subscribe here

Tentang Kami

My photo
Denpasar, Bali, Indonesia
WELLCOME to Gereja Kristen Protestan Simalungun Bali... Di sini tempat kita memuji Tuhan Yesus Kristus, tempat kita belajar Firman Tuhan... Let's praise Jesus Christ..!!Haleluya...

Pengurus Gereja

Pendeta
Pdt. Melena br. Turnip

Pimpinan Majelis

Vorhanger : St. Jansen Purba Sidagambir
Wapeng : St. Rajalim Saragih Simarmata
Sekretaris : Sy. Johny Damanik
Bendahara : St. W. Saragih Simarmata

Anggota Majelis
St. Rajalim Saragih
St. H. F. Sinaga
Sy. HJ. Sipayung
Sy. Enrico Purba
Sy. Doni F. Sinaga
Sy. Jayansen Sipayung
Sy. E. H. Sinaga
Sy. Jadima Purba Sidagambir
Sy. Benny Saragih
Sy. Jonrianto Purba

Seksi-seksi/Koordinator
Bapa: Sy. Jayansen Sipayung
Wanita: Ny. M. Lisbeth Br. Saragih
Pemuda: Sy. Donny Sinaga
SM: Ny. Evi K. Br. Girsang

Pembimbing
Bapa: St. H. F. Sinaga
Wanita: St. W. Saragih Simarmata
Pemuda: Sy. Jadima Purba Sidagambir
SM: Sy. Jonrianto Purba

Translate

GKPS Denpasar's Moments

Pensi Pgkps Denpasar

Ianan, Lokasi


View Tanjung Benoa in a larger map